Senin, 28 Mei 2012

Perencanaan Kegiatan Masjid

Masjid bukan lagi sebuah institusi keagamaan yang dapat dibiarkan dan berjalan seadanya. Mesjid memiliki beragam fungsi ganda. Mesjid bukan hanya sarana beribadah secara mahdloh melainkan juga beribadah secara lebih luas memasuki wilayah sosial horizontal. Kaitannya dengan fungsi-fungsi sosial ini maka para pengelola maupun pembinanya dituntut memiliki wawasan meskipun serba sedikit tentang manajemen masjid. Diantara fungsi dasar dalam manajemen masjid ini adalah perencanaan kegiatan masjid. Kiranya modul berikut dapat membantu para pengelola dan pembina masjid dalam memahami perencanaan kegiatan masjid tersebut. Silahkan unduh disini untuk membacanya.

Kamis, 19 April 2012

MADZHAB TAFSIR


Oleh : Shohib[2]

A. Pendahuluan
            Madzhab tafsir al-Qur’an merupakan salah satu tema besar yang mengkaji mengenai berbagai upaya kelompok atau individu untuk menegakan kitab suci, bagaimana setiap diri mereka berusaha memahami dan menginterpretasi setiap makna kata sehingga satu kata memiliki ragam tafsir dan pemahaman dan tendensi kepentingan yang diusung oleh penafsirnya. Tafsir dalam khazanah intelektual muslim tidak terlepas dari latar belakang pemahaman, tujuan dan tendensi tertentu. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam produk tafsir al-Qur’an yang berkembang. Dalam kalangan terbatas ada yang melarang menafsirkan apalagi menakwilkan kitab suci karena telah dianggap memanipulasi kalam Allah, meskipun akhirnya mayoritas umat islam mengakui dan menyepakati satu bentuk kitab suci, yaitu Mushaf Utsmani, tetapi pemahamannya sangat beragam.

Selasa, 06 Maret 2012

TUJUAN DAKWAH

TUJUAN DAKWAH[1]
Oleh : Shohib[2]

Hakikat dakwah merupakan usaha seruan atau ajakan kepada kesadaran atau mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran Islam baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Dengan  kalimat lain dakwah merupakan usaha orang beriman untuk mewujudkan Islam dalam segi kehidupan baik terhadap individu, keluarga, masyarakat. Dakwah merupakan aktualisasi iman dan kewajiban serta tugas suci  setiap muslim sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing.


Selasa, 14 Februari 2012

Pedoman Identifikasi Wilayah PA

Kegiatan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi seorang penyuluh agama memperlihatkan karakteristik kerja yang sistematis dan terukur. Dasar pelaksanaan tugas tersebut dimulai dari adanya informasi yang akurat mengenai potensi sumberdaya lingkungan yang ada di wilayah sasaran binanya. Sebagai bekal pertama kiranya pedoman berikut dapat membantu para tenaga penyuluh agama dalam pelaksanaan tupoksi tersebut. Silahkan klik disini untuk mengunduhnya

Senin, 16 Januari 2012

Pedoman Penyusunan Laporan PA

Sebagaimana diatur dalam Permenkowasbangpan nomor 54 tahun 1999, bahwa tenaga penyuluh agama adalah bagian dari tenaga fungsional yang ada di Kementerian Agama RI. Dan, sebagi bagian dari insan kepemerintahan kinerja seorang penyuluh agama salah satunya diketahui dari adanya laporan kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan perencanaan awal. Kiranya pedoman berikut dapat membantu para tenaga penyuluh agama dalam melakukan pelaporan tugasnya. Klik disini untuk mengunduhnya.

Selasa, 22 November 2011

Teknik Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan Penyuluhan Agama

Saudara-saudara para penyuluh agama, kegiatan kita sedikit banyak berbeda dengan mitra kita para kyai atau ustadz yang sama sama bergerak dalam dakwah. Kaitannya dengan status kepegawaian kita sebagai bagian dari PNS, maka setiap gerak kegiatan yang telah direncanakan tentu harus ada evaluasi dan pelaporan kegiatannya. Tahapan ini selain sebagai wujud kinerja kita juga merupakan jejak penting bagi pemerintah untuk melihat gradasi pembangunan keagamaan yang menjadi amanat Kementerian Agama. Berikut ini kami sajikan modul terkait dengan Teknik Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan Penyuluhan Agama ini. Silahkan klik disini untuk mengunduhnya. Semoga bermanfaat.

Wajah baru dalam performa Diklat Teknis

Terbitnya PerKaLAN nomor 13,14 dan 15 tahun 2011 memberikan sebuah wajah baru dalam dunia pendidikan dan pelatihan. Lebih khsusu bagi Kementerian Agama adanya regulasi ini menjadi jawaban dari pertanyaan saya sendiri dalam blog ini dengan judul "sudah tepatkah penjenjangan dalam diklat teknis?". Saya tidak menggugat keberadaan diklat teknis yang dijenjangkan, alih-alih mencoba menemukan formula yang tepat dalam kerangka memberikan pelayanan bagi pegawai Kementerian Agama untuk meningkatkan kompetensi teknis dan fungsional mereka.

Rabu, 24 Agustus 2011

PENJENJANGAN DALAM DIKLAT TEKNIS SUDAH TEPATKAH?

Jawaban terhadap pertanyaan sekaligus judul di atas mungkin tepat atau juga tidak tepat. Lebih jauh dapat ditelusuri siapakah peserta diklat teknis itu? Jawabnya adalah tenaga pendidikan (guru dan dosen) serta pelayan keagamaan. Dan diketahui bahwa guru dan dosen adalah pejabat fungsional. Demikian pula halnya jabatan penyuluh dan penghulu dalam konteks pelayan keagamaan adalah pejabat fungsional yang merupakan khas Kementerian Agama. Namun demikian, dalam konteks kediklatan mereka dikategorikan menjadi tanggungjawab penyelenggara diklat teknis. Kaitan dengan hal itu, maka bisa dikatakan tepat jika (beberapa) diklat teknis dijenjangkan yakni untuk menjawab kompetensi mereka sesuai dengan tupoksi jabatannya sebagaimana berlaku dalam jabatan fungsional.

Kamis, 07 Juli 2011

Penyuluh juga BISA!!!

Pada awal penyelenggaraan DJJ di Kementerian Agama, khususnya BDK Bandung pernah terbersit ketidakyakinan bahwa Diklat Jarak Jauh bagi Penyuluh dapat diselenggarakan. Beberapa pemikiran yang muncul adalah apakah mereka secara personal sudah mampu mengakses teknologi informasi? Apakah sudah tersedia alat yang mendukung bagi mereka? Apakah bahan ajar (modul) sudah lengkap? Apakah Widyaiswaranya mampu untuk menjadi tutor?

Selasa, 21 Juni 2011

DJJ Penyuluh siapa pesertanya?

Sungguh luar biasa, sebagai program yang pertama kali di gelar untuk para tenaga fungsional penyuluh keagamaan, peminatnya sangat banyak. Di sebut sangat banyak karena melebih harapan yang sesungguhnya hanya diperlukan 30 orang saja. Saat ini yang masuk ke meja pendaftaran mencapai 82 orang dan masih terus mungkin bertambah.

Strategi Bimbingan dan Penyuluhan Agama

Penyuluh Agama akan berhadapan dengan beragam karakteristik sasaran baik secara kelompok maupun pribadi. Secara sosiologis kita mengenal tipologi masyarakat seperti perotaan, pedesaan, terpencil dan lain sebagainya. Bagaimana kita selaku penyuluh agama berhadapan dengan mereka? semoga modu berikut dapat membantu saudara dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Klik disini untuk mengunduhnya.

Senin, 20 Juni 2011

Info Pendampingan

Setelah pada tahun 2010 melakukan piloting di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung di mana masing-masing lokusnya adalah Kecamatan Ujung Berung dan Kecamatan Cileunyi, maka pada tahun 2011 ini program pendampingan ini semakin di matangkan dan di perluas areanya ke luar wilayah terdahlu. Tahun 2011 ini, fokus utamanya adalah pendampingan materi KTI, tentu saja tidak menutup peluang materi lainnya. Konsep program ini adalah seorang widyaiswara penyuluh agama mendampingi sedikitnya lima orang penyuluh agama di daerah dalam materi terpilih.
Berbeda dengan program pelatihan lainnya dimana calon peserta adalah ditugaskan (seperti diklat reguler dan DDTK) maka pada program ini dituntut kemandirian penyuluh agama (seperti halnya dalam DJJ) untuk mengajukan proposal kesediaan untuk didampingi. Proposal dapat dibuat sendiri (tentu mewakili teman lainnya) atau oleh koordinatoriat (pokjaluh).
Mengingat program ini bersifat mandiri, maka dalam hal ini perlu diketahui bersama para peserta pendampingan tidak memperoleh akomodasi melainkan suatu pengetahuan dan pengalaman bersama tentang materi yang ingin didampingi. Dan, disaat yang sama, para peserta pendampingan tidak perlu memikirkan biaya para widyaiswara untuk datang ke tempat pendampingan.



Sabtu, 14 Mei 2011

Menulis yang menyenangkan

Pernahkan ketika kita membaca sebuah tulisan (karya orang lain tentunya) kita terlintas sauatu pemikiran "Kalo cuman segitu, aku juga bisa". Teman, ini adalah modal dasar kita. Namun yang sering kita lupakan adalah ketika gagasan itu muncul kita tidak pernah mendokumentasikannya dalam media tulisan. Sehingga ide cemerlang itu lewat begitu saja tanpa kita sempat memanfaatkannya menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang sekedar mencemooh.